Friday, August 12, 2016

SUATU KESATUAN


Alangkah indahnya ketika
Dua mahakarya alam semesta 
Membaur dengan sunyinya malam

Alangkah indahnya ketika
Cinta menyatukan dua kekasih
Dan mempersembahkan malam yang sunyi
Untuk menjadi milik berdua 

Tuesday, August 9, 2016

MAHKOTA BETINA



Rupanya, mahkota kebangaan kaum perempuan bukan berupa ijazah, bukan berupa piala, bukan berupa keberanian, bukan berupa kegigihan, bukan berupa ilmu, bukan berupa keringat jerih payah, bukan berupa tulisan maupun karya seni yang ia pajang dengan bangga di ruang kamarnya, dan terlebih lagi, tidak disematkan di kepala layaknya ratu maupun putri dari cerita dongeng. 
Mahkota itu disematkan di antara selangkangan dan berupa selaput membran yang menyelimuti alam kelamin perempuan. 
Dan
mahkota itu
akan dianugerahkan
pada 
siapapun yang 
menikahi
si perempuan
dan
apabila mahkota itu
hilang bentuk sebelum
sang puan menikah
(atau dinikahi)
maka sang puan
beserta
ijazah, piala, keberanian, kegigihan, ilmu, keringat jerih payah, tulisan maupun karya seni yang ia pajang dengan bangga di ruang kamarnya
tidak lagi bernilai
dan si puan menjadi
pencemar nama baik
setara dengan tinja
tak lagi manusia

Rupanya, kemaluan ini, yang merupakan milik kami sendiri, bagian dari kami sejak dilahirkan, merupakan properti masyarakat dan harta bagi pria yang kelak akan memiliki kami seutuhnya. 
Rupanya,
hak bagi kaum betina
tidak lebih dari ilusi belaka



Friday, August 5, 2016

TEMANKU ADALAH CERMIN

"Water Mirror" oleh Nagashima dan Hyoudou


Dalam dingin dan hening 
Aku diam tak bergeming 
Di hadapan temanku cermin
Sembari menghitung hari

Perlahan hening menyuarakan
raungan yang menyayat
Lantai seolah-olah meneguk tiap kepedihan
dengan penuh dahaga
Harapanku telah dicuri, dan kini tinggalah aku sebatang kara
mengais serpihan kehidupan

Aku berseru pada cermin,  tak kian henti mengetuk dan mengutuk
dan memintanya untuk membawaku pada sisi seberang;
pada dunianya yang maya dan serba terbalik

Tapi cermin hanya melukiskan rupaku yang rapuh;
tiap jejak air mata dan lekukan keriput
tersirat dengan jelas di tubuhnya yang beku
Di balik dunianya yang maya, cermin telah menyodorkan
sepotong realita pahit 

Dalam dingin dan hening 
Aku diam tak bergeming 
Di hadapan temanku cermin
Sembari menghitung hari




Friday, May 6, 2016

KEMALUAN


PROLOG.



Seni menyuarakan akal dan batin penciptanya yang sulit diuraikan oleh tuturan kata. Tiap garis dan warna menyiratkan makna tersendiri, dan barangkali hanya penciptanyalah yang mengerti. 
Ah, manusia itu lucu. Rindu untuk dimengerti, namun seringkali bungkam dari telinga dunia. Maka ia menciptakan karya abstrak dan memaparkannya ke dunia, berharap dimengerti seseorang seraya ia diam seribu bahasa. Akan tetapi, meski tiap garis dan warna menyiratkan makna tersendiri, barangkali hanya penciptanyalah yang mengerti.